Luruh Laras
Tiyon Vector
Tahun: 2026
Media: Acrylic on canvas
Ukuran: 100 × 120 cm
Luruh Laras menghadirkan tubuh manusia sebagai ruang pertemuan antara rapuhnya harapan dan upaya untuk menemukan kembali keharmonisan. Sosok yang duduk dalam posisi menyerupai meditasi menjadi pusat perhatian, tetapi tubuh tersebut tidak tampil sebagai figur yang sepenuhnya tenang. Ia justru tampak terbelit, memeluk sekaligus menahan dirinya sendiri—sebuah gestur yang menyiratkan pergulatan batin antara keinginan untuk melepaskan beban dan kebutuhan untuk tetap bertahan.
Di atas kepala figur utama, sepasang kaki berdiri pada sebuah bentuk yang menyerupai tumpuan. Kehadiran kaki tersebut menghadirkan kesan adanya beban yang tidak sepenuhnya berada di dalam kendali tubuh. Sementara itu, tangan-tangan yang saling bertaut di sekitar tubuh menciptakan lapisan visual yang kompleks: memeluk, membatasi, sekaligus melindungi. Tubuh menjadi semacam medan tempat berbagai perasaan bertemu dan berkonflik.
Latar karya yang dibangun melalui sapuan warna merah, hitam, biru, dan semburat cahaya menciptakan atmosfer yang intens dan emosional. Sapuan yang ekspresif membuat ruang di sekitar figur seolah bergerak terus-menerus. Di tengah kekacauan tersebut, figur utama justru menjadi titik kontemplasi—seperti seseorang yang sedang berusaha menemukan ketenangan ketika dunia di sekelilingnya tidak pernah benar-benar diam.
Dalam kerangka Ada_Mengada#2 — Labuh, Luruh Laras dapat dibaca sebagai perenungan mengenai proses menerima ketidaksempurnaan. Kata luruh membawa bayangan tentang sesuatu yang jatuh, terlepas, atau perlahan melepaskan diri dari bentuk sebelumnya. Sementara laras mengarah pada keselarasan atau harmoni. Pertemuan kedua kata tersebut menghadirkan paradoks: untuk menemukan keselarasan, terkadang seseorang harus terlebih dahulu bersedia meluruhkan sesuatu dari dalam dirinya.
Karya ini tidak menawarkan ketenangan sebagai keadaan yang sudah selesai. Ketenangan justru hadir sebagai proses—sebuah usaha untuk berdamai dengan luka, keterbatasan, keinginan, dan keadaan yang tidak selalu dapat dikendalikan. Dalam pengertian tersebut, labuh bukan hanya tentang berhenti setelah perjalanan, tetapi juga tentang menemukan keberanian untuk menerima tempat di mana kita akhirnya berlabuh.
Luruh Laras kemudian menjadi semacam ajakan untuk melihat ke dalam diri: bahwa keharmonisan tidak selalu lahir dari keadaan yang sempurna. Ia dapat tumbuh dari keberanian untuk menerima keretakan, melepaskan sebagian beban, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali bernapas.
Tentang Seniman
Tiyon Vector merupakan perupa dan desainer visual asal Pacitan, Jawa Timur. Praktik kekaryaannya mencakup lukisan, ilustrasi, desain grafis, serta eksplorasi bentuk tiga dimensi. Dalam proses artistiknya, ia mengembangkan pendekatan eksperimental dengan mengolah figur, simbol, pengalaman personal, serta konteks lingkungan sebagai sumber gagasan.
Tiyon Vector tergabung dalam komunitas perupa Pacitan dan aktif berkegiatan di Padepokan Lemah Teles Pacitan, sebuah ruang interaksi, pertukaran gagasan, dan pengembangan praktik seni rupa. Karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai pameran seni rupa di sejumlah kota, antara lain Pacitan, Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, dan Jakarta.
Perjalanan tersebut turut memperkaya bahasa visualnya, terutama dalam mengeksplorasi persinggungan antara pengalaman personal, lingkungan, serta konteks sosial-kultural.




