Lelabuh Pangupo Jiwo
Perdi Rahayu
Media: Acrylic on Canvas
Ukuran: 70 × 90 cm
Harga: Rp3.500.000
Deskripsi Kuratorial
“Lelabuh Pangupo Jiwo” menghadirkan gambaran tentang kehidupan nelayan sebagai sebuah perjalanan penghidupan yang berlangsung di antara keteguhan, kelelahan, dan harapan. Di atas bentangan laut yang luas, sebuah perahu kecil membawa seorang nelayan kembali menuju tepian setelah menjalani perjuangan di samudra. Momen kepulangan tersebut menjadi inti narasi karya: sebuah labuh yang bukan sekadar aktivitas kembali ke daratan, tetapi bagian dari ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Laut dalam karya ini tampil sebagai ruang kehidupan sekaligus ruang perjuangan. Hamparan air yang luas, gelombang, langit, dan cahaya pagi membentuk suasana yang mempertemukan dua sisi kehidupan nelayan: kerasnya medan yang harus dihadapi dan harapan yang selalu menyertai perjalanan pulang. Perahu kecil yang bergerak menuju tepian menjadi simbol keteguhan manusia dalam menjalani kehidupan, meskipun harus berhadapan dengan ombak, dinginnya samudra, serta rasa letih yang terus berulang.
Cahaya matahari yang muncul di antara awan memberikan aksen penting dalam komposisi. Pancaran keemasan yang memantul di permukaan laut menghadirkan kesan berkah dan harapan. Setelah malam yang panjang dan perjalanan yang melelahkan, pagi datang sebagai penanda bahwa setiap perjuangan memiliki kemungkinan untuk menghasilkan sesuatu. Cahaya tersebut seolah menjadi metafora bagi harapan yang menuntun manusia untuk terus bergerak.
Dalam konteks tema “Labuh”, karya ini memiliki hubungan yang kuat dengan gagasan tentang kembali. Nelayan tidak hanya kembali membawa hasil tangkapan, tetapi juga kembali kepada kehidupan yang menantinya di tepian. Di balik perjalanan tersebut terdapat orang-orang yang menggantungkan harapan pada hasil kerja sang nelayan. Karena itu, labuh dalam karya ini memiliki dimensi sosial dan emosional: sebuah kepulangan yang membawa tanggung jawab untuk menghidupi kehidupan lain.
Frasa “pangupo jiwo” mempertegas makna tersebut. Penghidupan bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga menjadi bentuk pengabdian kepada mereka yang menunggu. Rasa lelah, dingin, dan perjuangan menghadapi ombak diterima sebagai bagian dari ikhtiar yang dijalani dengan keikhlasan. Dengan demikian, aktivitas menangkap ikan memperoleh makna yang lebih luas sebagai bentuk ketekunan manusia dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.
Secara keseluruhan, “Lelabuh Pangupo Jiwo” mengajak kita melihat sosok nelayan bukan semata sebagai pekerja laut, tetapi sebagai manusia yang menjalani siklus kehidupan antara berangkat, berjuang, memperoleh hasil, dan kembali. Laut menjadi ruang ujian, sementara tepian menjadi ruang harapan. Di antara keduanya, manusia terus berusaha mempertahankan kehidupan dengan ketabahan dan keikhlasan.
Karya ini pada akhirnya menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: setiap perjuangan memiliki alasan untuk dijalani, dan setiap kepulangan membawa harapan bagi kehidupan yang menunggu di tepian. Seperti labuhnya perahu setelah mengarungi samudra, manusia pun membutuhkan sebuah tempat untuk kembali—bukan hanya untuk beristirahat, tetapi untuk melanjutkan kehidupan dengan harapan yang baru.




