Ros Timur Indonesia

Merawat Warisan, Menginspirasi Peradaban

IBU

Surya Eka Wijaya — 2026

Media: Textile on Hardboard
Ukuran: 60 × 80 cm
Harga: Rp3.000.000
Domisili seniman: Griya Pinilih No. 10, Sundeng, Bangunsari, Pacitan.

Deskripsi Kuratorial

“Ibu” menempatkan sosok perempuan sebagai ruang tempat seseorang kembali—sebuah tempat untuk berlabuh setelah menjalani perjalanan hidup yang panjang. Dalam karya ini, figur ibu hadir di tengah kepadatan motif tekstil yang berlapis-lapis. Tubuh, pakaian, dan lingkungan visualnya seolah tidak berdiri sendiri, tetapi melebur menjadi satu kesatuan yang kaya akan pola, warna, dan jejak kebudayaan.

Pernyataan sederhana seniman menjadi pintu masuk utama untuk membaca karya ini: “IBU Selalu menjadi tempat ‘berlabuh’ bagi anak-anaknya.”

Kata “berlabuh” memiliki kedekatan yang kuat dengan tema besar Labuh. Sebagaimana kapal membutuhkan tempat untuk berhenti setelah menempuh perjalanan, manusia pun membutuhkan sebuah ruang untuk meletakkan lelah, kegelisahan, dan berbagai beban kehidupannya. Dalam konteks karya ini, ruang tersebut adalah ibu.

Namun, berlabuh tidak selalu berarti kembali secara fisik. Ia dapat berarti menemukan rasa aman, kasih sayang, penerimaan, dan tempat untuk menjadi diri sendiri. Ibu hadir sebagai figur yang memungkinkan seorang anak berhenti sejenak dari dunia yang terus bergerak.

Ibu sebagai Ruang Pulang

Komposisi karya memperlihatkan sosok ibu dalam balutan elemen tekstil dengan motif yang sangat kaya. Berbagai bentuk flora, ornamen, dan pola batik mengitari figur utama. Kepadatan visual tersebut memberikan kesan bahwa sosok ibu tidak terpisah dari lingkungan budaya yang membentuk kehidupan manusia.

Tekstil dalam karya ini bukan sekadar medium dekoratif. Ia dapat dibaca sebagai metafora ingatan dan warisan. Motif yang berulang mengingatkan pada sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi: nilai, kebiasaan, kasih sayang, bahasa, tradisi, bahkan cara seseorang memahami rumah.

Di tengah keragaman motif tersebut, figur ibu menjadi pusat perhatian. Ia seperti titik tempat berbagai pengalaman bertemu. Ada masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan yang berkelindan di dalam satu sosok.

Kasih yang Tidak Banyak Bicara

Karya ini juga menghadirkan ibu bukan sebagai figur monumental yang harus selalu tampil kuat. Justru kekuatannya dapat ditemukan dalam kehadiran yang sederhana dan terus-menerus.

Seorang ibu sering kali menjadi tempat pertama seorang anak mengenal rasa aman. Ketika dunia di luar berubah dan kehidupan menghadirkan berbagai ketidakpastian, keberadaan ibu menjadi semacam jangkar emosional. Tidak selalu membutuhkan kata-kata; terkadang cukup dengan mengetahui bahwa ada seseorang yang tetap menerima kita ketika tempat-tempat lain menolak.

Dalam pengertian tersebut, Ibu berbicara tentang ketabahan yang tidak selalu terlihat. Ia adalah kekuatan yang bekerja dalam keseharian, melalui perhatian, pengorbanan, dan kasih yang mungkin baru disadari nilainya ketika seseorang telah menempuh perjalanan yang jauh.

Motif sebagai Ingatan

Kekayaan pola dalam karya juga membuka pembacaan mengenai hubungan antara perempuan, tekstil, dan kebudayaan. Tekstil membawa jejak tangan manusia: proses membuat, menyusun, merawat, menggunakan, dan mewariskannya.

Motif-motif yang memenuhi bidang karya seolah menjadi arsip visual tentang ingatan. Di sana, ibu tidak hanya dipahami sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari rantai kebudayaan yang meneruskan sesuatu kepada generasi berikutnya.

Dengan pendekatan tersebut, figur ibu dapat dibaca sebagai penjaga ingatan. Ia menjadi salah satu ruang tempat nilai-nilai kehidupan disimpan sebelum diteruskan kepada anak-anaknya.

“Labuh” sebagai Perjalanan Kembali

Dalam konteks pameran Ada_Mengada#2 — Labuh, Ibu menemukan posisi yang sangat personal. Jika labuh merupakan tindakan menurunkan jangkar dan menghentikan perjalanan untuk sementara, maka ibu adalah salah satu bentuk “pelabuhan” paling awal yang dikenal manusia.

Kapal dapat berlayar sejauh apa pun, tetapi ia membutuhkan tempat untuk kembali. Demikian pula manusia. Kita dapat tumbuh, meninggalkan rumah, mengejar cita-cita, mengalami kegagalan, menemukan keberhasilan, dan menjalani berbagai perubahan kehidupan. Namun, di dalam ingatan banyak orang, terdapat satu ruang yang tetap memiliki daya tarik untuk kembali: ibu.

Karya ini akhirnya tidak hanya berbicara tentang sosok seorang ibu, tetapi tentang kebutuhan manusia untuk memiliki tempat berlabuh.

Tempat di mana seseorang tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
Tempat di mana kegagalan tidak membuatnya kehilangan penerimaan.
Tempat di mana perjalanan yang panjang dapat berhenti sejenak.

“Ibu” adalah tentang rumah yang berwujud manusia.

Dan melalui karya ini, Surya Eka Wijaya mengingatkan bahwa di tengah perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar berhenti, barangkali salah satu bentuk keberanian terbesar adalah mengetahui kepada siapa kita dapat kembali dan berlabuh.

Profil Seniman

Surya Eka Wijaya lahir di Jember, 03 Januari 1982 dan berdomisili di Griya Pinilih No. 10, Sundeng, Bangunsari, Pacitan. Dalam biografinya, ia memperkenalkan diri dengan nada rendah hati sebagai “perupa abal-abal dengan kerendahan hati ingin jadi orang baik dan belajar pada guru yang berserak di mana-mana.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan cara pandang yang menempatkan proses belajar sebagai bagian penting dari perjalanan berkesenian. Alih-alih menempatkan dirinya sebagai sosok yang telah selesai, seniman justru menekankan kerendahan hati, keinginan untuk menjadi orang baik, dan keterbukaan untuk belajar dari berbagai guru yang ditemuinya dalam kehidupan.

Spesifikasi Karya

Keterangan Detail
Judul Ibu
Seniman Surya Eka Wijaya
Tahun 2026
Media Textile on Hardboard
Ukuran 60 × 80 cm
Harga Rp3.000.000