Ros Timur Indonesia

Merawat Warisan, Menginspirasi Peradaban

Hanya Sekadar

Sabdurja — 2026

 

“Hanya Sekadar” menghadirkan sosok manusia yang duduk dalam keheningan, seolah sedang mengambil jeda dari derasnya persoalan kehidupan. Figur tersebut tidak ditampilkan sebagai tokoh yang sedang melakukan tindakan heroik, melainkan sebagai manusia biasa yang berada dalam ruang batinnya sendiri—diam, menimbang, dan menerima.

Di balik ketenangan figur, terdapat gambaran tentang keresahan batin yang lahir dari berbagai urusan duniawi. Kehidupan tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ada rencana yang tidak tercapai, harapan yang tertunda, serta keadaan yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengendalikannya. Dalam situasi semacam itu, karya ini menawarkan sebuah sikap: bukan melawan segala sesuatu dengan keterpaksaan, melainkan belajar menerima dan menyandarkan apa yang tidak mampu ditanggung sendiri.

Konsep “Nampung sakdermo” menjadi salah satu kunci pembacaan karya ini. Ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai sikap menerima apa yang datang dengan kesadaran bahwa manusia memiliki batas. Menerima bukan berarti menyerah dalam pengertian pasif, tetapi menjadikannya sebagai laku hidup—sebuah cara untuk tetap berjalan ketika kenyataan tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi.

Dalam konteks tersebut, sosok yang duduk menjadi metafora manusia yang sedang mencari pengayoman batin. Ia berhadapan dengan kehidupannya sendiri, tetapi pada akhirnya menyadari bahwa tidak seluruh beban harus diselesaikan dengan kekuatan manusia. Ada ruang untuk berserah, untuk mengembalikan sesuatu yang berada di luar kendali kepada Tuhan Yang Esa.

Karya ini kemudian bergerak dari persoalan personal menuju refleksi spiritual. “Hanya Sekadar” tidak berbicara tentang manusia yang bebas dari persoalan, melainkan tentang bagaimana seseorang menemukan ketenangan di tengah persoalan tersebut. Berserah kepada Tuhan menjadi bentuk penerimaan sekaligus keyakinan bahwa setiap kehidupan memiliki maksud dan bahwa manusia tidak diciptakan semata-mata untuk mengalami kesusahan.

Dengan demikian, karya Sabdurja menghadirkan keheningan sebagai ruang kontemplasi. Duduk menjadi simbol berhenti sejenak; keresahan menjadi bagian dari perjalanan; sedangkan berserah menjadi cara untuk melanjutkan langkah. “Hanya Sekadar” pada akhirnya mengajak kita mempertanyakan kembali: ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak, kepada siapa kita menyandarkan hati?

Dalam semangat “Labuh”, karya ini menemukan relevansinya pada gagasan tentang melepaskan sebagian beban perjalanan. Ada saat ketika manusia harus berhenti memaksakan kehendak, menerima keterbatasannya, kemudian menambatkan harapan pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

“Nampung sakdermo” — menerima secukupnya, menjalani seperlunya, dan menyandarkan apa yang tak mampu kita kendalikan kepada Tuhan.

Spesifikasi Karya

  • Judul: Hanya Sekadar
  • Seniman: Sabdurja
  • Tahun: 2026
  • Media: Akrilik di atas kanvas
  • Ukuran: 100 × 80 cm
  • Harga: Rp2.500.000
  • Tema: Keresahan batin, penerimaan, spiritualitas, dan kepasrahan kepada Tuhan.

Profil Singkat Seniman

Sabdurja lahir di Pacitan pada 26 Februari 2002 dan berdomisili di Worarari, Kebonagung, Pacitan. Dalam data kepesertaan pameran, ia menggambarkan praktik keseniannya secara sederhana sebagai “hanya melakukan kewajiban sebagai tukang gambar.” Pernyataan yang sederhana tersebut justru dapat dibaca sebagai sikap rendah hati terhadap proses berkarya: menggambar bukan semata-mata tentang pencapaian, melainkan bagian dari laku yang terus dijalani.