PANDAWA
Pratanda Fillahi | 2023
Pandawa menghadirkan dunia pewayangan bukan semata sebagai representasi tokoh-tokoh dalam kisah Mahabharata, melainkan sebagai ruang pertemuan antara tradisi, simbol, dan pengalaman visual kontemporer. Sosok-sosok wayang yang memenuhi bidang kanvas tampil dalam komposisi yang padat, dikelilingi ornamen flora, pola dekoratif, serta lanskap yang terasa seperti dunia simbolik tersendiri.
Penggambaran karakter Pandawa dengan bentuk tubuh yang khas wayang memperlihatkan bagaimana ingatan terhadap budaya Jawa dapat diterjemahkan melalui bahasa rupa yang personal. Figur-figur tersebut tidak hanya hadir sebagai tokoh naratif, tetapi juga sebagai simbol tentang keberanian, persaudaraan, pilihan moral, dan perjalanan manusia menghadapi berbagai pertentangan.
Kepadatan ornamen dan permainan pola pada karya ini menciptakan kesan seolah penonton sedang memasuki sebuah dunia yang tidak sepenuhnya realistis—sebuah dunia antara mitologi dan ingatan budaya. Warna-warna yang kaya serta detail dekoratif yang berlapis memberikan energi visual yang kuat, sekaligus menegaskan hubungan karya dengan tradisi batik, wayang, dan estetika visual Jawa.
Dalam konteks Labuh, Pandawa dapat dibaca sebagai sebuah upaya untuk melabuhkan kembali ingatan terhadap tradisi ke dalam bahasa seni rupa masa kini. Tradisi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang beku dan selesai, tetapi terus bergerak melalui tangan perupa, menemukan bentuk baru, dan membuka kemungkinan pembacaan baru bagi generasi sekarang.
Karya ini pada akhirnya mengajak kita untuk melihat Pandawa bukan hanya sebagai tokoh dalam cerita masa lalu, tetapi sebagai cermin tentang manusia: tentang bagaimana nilai, konflik, persaudaraan, dan pilihan hidup terus menemukan relevansinya di setiap zaman.




