Ros Timur Indonesia

Merawat Warisan, Menginspirasi Peradaban

Wene Wam Pikol Anan — Yuan Kambali

Kulit Kayu Combow, 2025 | 60 × 80 cm

Dalam karya “Wene Wam Pikol Anan”, Yuan Kambali menghadirkan sosok perempuan Papua Pegunungan yang pulang dari kebun dengan anak yang dipikul di punggungnya, sementara tangannya menggenggam alat kerja. Adegan sederhana tersebut menjadi representasi keseharian yang sarat makna: tentang kasih seorang ibu, kerja keras, tanggung jawab, sekaligus keteguhan perempuan dalam menopang kehidupan keluarga.

Berangkat dari tema “Labuh”, karya ini dapat dibaca sebagai penghormatan terhadap kerendahan hati dan pengorbanan seorang Mama Papua Pegunungan. Aktivitas pulang dari kebun tidak sekadar menggambarkan rutinitas, tetapi menjadi simbol perjalanan pulang setelah menjalani kerja dan perjuangan untuk mempertahankan kehidupan. Anak yang dipikul dengan noken mempertegas relasi kasih dan tanggung jawab antargenerasi, sementara alat kerja yang digenggam menjadi penanda ketekunan dan daya hidup.

Pemilihan kulit kayu sebagai medium semakin memperkuat gagasan tersebut. Material yang memiliki kedekatan dengan alam dan tradisi Papua menjadi bagian dari narasi karya, bukan sekadar permukaan untuk melukis. Melalui sosok perempuan yang membawa anak sekaligus hasil dari perjuangannya, Yuan Kambali menempatkan perempuan sebagai figur penting dalam menjaga keberlangsungan keluarga, nilai budaya, dan peradaban.

Karya ini pada akhirnya bukan hanya potret tentang seorang Mama Papua, melainkan sebuah refleksi mengenai kasih, pengorbanan, kerja keras, dan keteguhan manusia dalam menjalani kehidupan—sebuah “labuh” yang menemukan maknanya dalam kesediaan untuk terus membawa kehidupan menuju hari berikutnya.