Ada_Mengada#2 — Labuh
Ada_Mengada#2: Labuh merupakan ruang perjumpaan bagi para perupa untuk menghadirkan gagasan, pengalaman, dan perenungan tentang Labuh melalui bahasa visual masing-masing.
Labuh tidak semata-mata dipahami sebagai sebuah tindakan atau ritual, tetapi dapat menjadi metafora tentang perjalanan manusia: tentang keberanian berlayar menghadapi gelombang, melepaskan harapan, menjalani pengorbanan, hingga menemukan tempat untuk menepi dan memaknai kembali perjalanan.
Melalui beragam karya dan perspektif, pameran ini mengajak kita melihat bagaimana setiap perupa menerjemahkan Labuh berdasarkan pengalaman, ingatan, lingkungan, dan cara pandangnya sendiri.
Berikut adalah para perupa yang berpartisipasi dalam Ada_Mengada#2 — Labuh. Klik nama masing-masing perupa untuk melihat karya, profil, serta cerita yang melatarbelakangi karya mereka.
Selamat menikmati perjalanan visual ini.
Semoga setiap karya menemukan ruangnya di mata, pikiran, dan hati kita.
- Abdul Aziz S. – Rajah
- Arief Wibowo – Bilah untuk Pemula
- Aripurna – Warm Sips on Other Lips
- BenkBenk – Transactional
- Bowo C. – Labuh di Bulan Purnama
- Budi Raharjo – Paper Vessels
- Danururi – Senja Melabuh
- Dian Wonk – Bocah
- Haitsam Naufal – Ego
- Ika-Mey-Ristyani – Labuh
- Kus Hervida – Arus Kehendak
- Kus Hervica – Luruh
- Mela Nofita Sari – Melepas Rasa
- Misbach Daeng – Denting Arus
- Mustofa Fida Rozaq – Bersandar
- Perdi Rahayu – Lelabuh Pangupo Jiwo
- Probowo – Tempat Berlabuh bagi Pandawa Lima
- Pranoto – Rockssand, Pasir Berbatu
- Pratanda Fillahi – Pandawa
- Rhizuna – Merayu Tuhan
- Risa – Darmo Pusoko Samudro
- Sabdurja – Hanya Sekadar
- Supriadi – Pengabdian
- Surya Eka Wijaya – Ibu
- Suwanto — Labuh Senja di Kanopi Rimba
- Tiyon Vector – Luruh Laras
- Tri Hadi Winanto – Mitos
- Wasit Riajanto – si Ungu
- Y. Kambali – Wene Wam Pikol Anan
- Zami Alwi – Batas Harapan




